Sejarah Desa

  • Dibaca: 1944 Pengunjung

Sejarah Desa Penarungan

 

Menurut cerita para tetua yang dapt dipercaya bahwa kira-kira pada tahun 900 SM dua bersaudara masing-masing bernama I Gusti Ngurah Putu Kamasan dan adiknya I Gusti Ngurah Ketut Kamasan berangkat dari Desa Gelgel Kabupaten Klungkung diiringi oleh pengikutnya kira-kira 60 Kepala Keluarga bersama-sama hendak menuju Desa Sibang Srijati ( Sibang Gede Kecamatan Abiansemal ) bertempat di Tanah Ayu Blungbungan.

Setelah beberapa lama rombongan tersebut tinggal disana kemudian merencakan lagi pindah tempat menuju arah barat dan sebagian lagi bertempat di suatu tempat di tengah-tengah sawah yang sekarang disebut Munduk Umadesa dan Munduk Umariyon, sedangkan I Gusti Ngurah Putu Kamasan dan adiknya I Gusti Ngurah Ketut Kamasan dan beberapa pengikutnya bertempat tinggal di suatu tempat yang sekarang disebut Jero Jasa (karena tempat yang mendapat jasa). Tempat tinggal masing-masing tidak berjauhan kira-kira 700 M dan di tempat itulah mereka mulai membuat sawah/ladang untuk bisa ditanami padi/padi gogo dan palawija.

Diceritakanlah entah beberapa tahun lamanya mereka tinggal di tempat itu bahwa pondok I Gusti Ngurah Ketut Kamasan diserang semut yang datang terus menerus dan bergumpal-gumpal walaupun telah beberapa kali untuk memusnahkannya akan tetapi sia-sia belaka, sehingga mereka kehabisan akal.

Oleh karena musuh semut tidak bisa dikalahkan walaupun sudah berulang kali dicoba dimusnahkan namun tetap membuahkan hasil, maka timbulah keinginan mereka untuk pindah tempat lagi menuju ke arah timur laut dan kebetulan suatu hari yang sangat baik berangkatlah I Gusti Ngurah Putu Kamasan menembus semak belukar serta membersihkannya untuk dijadikan tempat pemukiman yang baru sedangkan pengikutnya yang lain masih tetap tinggal di tempat semula.

Setibanya mereka pada tempat yang dituju, maka mulailah mereka membuat Sanggar Tawang di atas batu besar sebagai tempat untuk memusatkan pikiran menuju Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk memohon keselamatan bersama dengan pengikutnya selanjutnya di tempat tersebut dibangun sebuah Pura Batu Aya yang sampai sekarang atas kepercayaan masyarakat dapat diadakan pujawali pada saat habis panen padi yang bertujuan untuk Nangluk merana pada khususnya hewan peliharaan dan di sawah pada umumnya.

I Gusti Ngurah Putu Kamasan bertempat tinggal di sebelah baratnya Sanggar Tawang (sekarang dihuni oleh waris dari Nang Andar almarhum), sedangkan di sebelah selatan Sanggar Tawang ( sekarang dihuni oleh waris dari Nang Garing almarhum ). Akan tetapi pengikutnya mencari tempat tinggal secara terpencar, di depan tempat tinggal I Gusti Ngurah Putu Kamasan terdapat sebuah batu pipih dan besar (Batu Aya) digunakan sebagai tempat duduk-duduk (sila sujana) bilamana mengadakan pertemuan dengan para pengikutnya. Di sebelah utara Sanggar Tawang dibuatkan pasar untuk memasarkan hasil bumi/sawah dan ladang keadaan sekarang tempat tersebut dihuni oleh keluarga Nang Jawa almarhum. Dari tempat inilah mereka merencanakan untuk membangun Pura Kahyangan Tiga sekalipun dengan cara darurat (tempat pada Pura Kahyangan Tiga yang ada sekarang), sedangkan disebelah Pura tersebut digunakan untuk sawah / ladang yang segala hasilnya digunakan untuk aci-aci disamping untuk kepentingan yang lainnya.

Para pengikut yang lainnya yang tinggal di Umadesa dan Umariyon ingin hidup berdampingan dengan kawan-kawannya yang lebih banyak, maka secara bertahap satu per satu mereka masuk lebih jauh mendekat disamping untuk memperbesar usaha untuk dapat hidup lebih terjamin dan dapat memperluas mata pencaharian mereka, sehingga mereka menemukan suatu sumber mata air yang sangat besar dan airnya sangat bening dimana kelihatan airnya berjalan berputar-putar dalam genangan dengan penuh bebatuan yang terapung kemudian lama kelamaan tempat/lokasi tersebut menjadi makin membeku/kental sesuai dengan dataran lainnya.

Atas penemuan sumber air tersebut mereka sangat gembira serta bisa menguntungkan pertanian dan dengan adanya sumber air tersebut bisa menyuburkan hasil pertanian mereka, maka dari keadaan tersebut mereka secara aklamasi memberikan nama “AIR ARUNGAN“. Oleh karena air tersebut dapat dipakai atau dilairkan ke sawah/ladang mereka secara merata, maka sampai sekarang disebut “Subak Penarungan” karena air tersebut berasal dari “AIR ARUNGAN” yang mengalir ke tengah-tengah sawah/ladang mereka yang disebut juga “PENG ARUNGAN “ (Subak Penarungan).

Adapun bagian system pengairan dari Subak Penarungan adalah sebagai berikut :

1.      Selatan :

·         Munduk Umariyon lokasi pengikut I Gusti Ngurah Putu Kamasan dari utara membentang ke selatan.

·         Munduk Umarejasa (Jero Jasa ) dari utara membentang ke selatan/ menyamping kanan.

·         Munduk Umadalem dari utara membentang ke selatan/menyamping kanan

2.      Tenggara :

·         Munduk Uma Bucu Tumpal ( segitiga ) membentang dari utara ke tenggara

·         Munduk Umadesa ( lokasi pengikut I Gusti Ngurah Putu Kamasan dan lanjut ke

·         Munduk Uma Gerih yang berdekatan dengan Sibang Srijati

3.      Timur :

·         Munduk Uma Kaping diantaranya munduk yang paling kecil dan juga pengairannya paling sulit dibandingkan dengan yang lain.

Demikianlah selanjutnya disamping mereka berusaha terus menerus untuk dapat meningkatkan sumber-sumber penghidupan serta perekonomian yang lainnnya. Setelah itu mereka secara bersama-sama mengalihkan perhatiannya untuk mempersiapkan diri untuk membangun Pura Kahyangan Tiga dan juga membetuk Banjar-banjar sebagai berikut :

1.      Banjar Sungguhan ( disebut Banjar Sanggoan ) bisa disebutkan demikian oleh karena mereka betul-betul melalui tempat/lokasi untuk mewujudkan ketenangan / keamanan serta kesejahteraan bersama

2.      Banjar Blungbang ( dapat disebutkan demikian oleh karena tempat / lokasi tersebut pertama kalinya dapat digali belumbang dalam Bahasa Bali untuk dialiri air dari sumber air “ ARUNGAN “ menuju ke selatan, sehingga sampai sekarang terdapat sungai yang menbentang sepanjang Banjar Blungbang

3.      Banjar Dauh Peken (sekarang) yang pada saat dulunya disebutkan Banjar Abing oleh karena di banjar ini awalnya sebagai tempat pembuatan gerabah dengan bahan baku dari tanah liat, seperti : periuk, kendi, pane dan lain-lain, dimana bahan bakunya terlalu banyak diambil sehingga tempat tersebut menjadi ketinggian ( Abing Bahasa Bali ).

4.      Banjar Dangin Peken ( sekarang ) dimana waktu dulu disebut Banjar Pemayukan karena daerah tersebut dipakai sebagai tempat membakar gerabah ( payuk Bahasa Bali )

 

Kemudian diceritakan ada seorang Pendeta yang bernama Ida Enderan datang atas perintah dari Dalem Gelgel dengan maksud bertemu dengan I Gusti Ngurah Putu Kamasan sedang berada di pasar dengan asiknya mengumpulkan sisa nasi yang tercecer di halaman pasar lalu ditusuk dengan sehelai ijuk dan pada waktu itu dilihatlah oleh seorang Parekan dan segera dilaporkan kepada I Gusti Ngurah Putu Kamasan.

Setelah mendapat laporan bahwa ada seorang tamu datang lalu beliau mempersilakan selekasnya Ida Enderan untuk menghadap. Setibanya di Jeroan I Gusti Ngurah Putu Kamasan kepada Ida Enderan dipersilakan untuk duduk sambil disuguhkan sesuatu ala kadarnya serta tusukan hasil tusukan nasi dari pasar tadi dititipkan kepada istri I Gusti Ngurah Putu Kamasan untuk disimpan dengan sebaik-baiknya karena nantinya apabila pertemuan sudah selesai tusukan nasi tersebut akan diambil kembali.

Setelah habis pertemuan tersebut, entah apa yang dibicarakan selanjutnya Ida Enderan mohon diri untuk pulang ke Gelgel, titipan yang tadi diminta kembali untuk dipakai bekal pulang. Selanjutnya I Gusti Ngurah Putu Kamasan menyerahkan tusukan nasi tersebut kepada Ida Enderan. Oleh karena kurang hati-hati saat penyerahan tusukan nasi tersebut tusukan nasi tersebut terlepas semua dan tercecer di tanah.

Saat itu pula Ida Enderan merasa diremehkan dan tersinggung dengan kejadian tersebut serta mengeluarkan kata-kata kutukan “Oh kenapa begini tingkah lakumu terhadap aku sebagai utusan, semoga nanti keturunanmu akan terpencar-pencar sebagaimana nasi yang aku bawa tadi karana kamulah yang menyebabkan jatuh berserakan ke tanah “.

Setelah mendengar kata-kata kutukan demikian I Gusti Ngurah Putu Kamasan dengan nada kecewa dan marah seraya berkata “Oh Ratu Pendeta, kenapa Ratu marah demikian keras terhadap diri saya, apakah kurang hormat ?

“Oh, begini Ngurah, tentang penerimaan itu sudah cukup dan terima kasih, akan tetapi Ngurah sebagai tuan rumah adalah alpaka, berani secara langsung merusak barang-barang bawaanku dan itu adalah suatu penghinaan terhadap aku “

Dengan demikian, lalu segera pula I Gusti Ngurah Putu Kamasan menjawab bahwa “Oleh karena Ratu (Ida Enderan) telah mengutuk saya dengan keras dan saya ini adalah sebagai orang tertua disini juga seolah-olah sebagai raja disini dan saya akan kutuk balik, yaitu “ Nah, bilamana ada Sang Brahmana di desaku ini tidak setia atau tunduk dengan pemerintahan / keturunanku, semoga juga tidak bisa mendapatkan keselamatan seterusnya (keturunan).

Setelah saling mengucapkan kutukan tersebut lalu Ida Enderan menghilang tanpa bekas.

Dengan adanya kisah tersebut di atas di tengah-tengah dataran luas ada suatu sumber air besar serta airnya berputar-putar yang lazim disebut “AIR ARUNGAN” Oleh karena air tersebut dapat mengairi sawah / ladang mereka sebagai penghuni dataran tersebut serta bisa meningkatkan hasil panen bahkan sampai berlimpah ruah. Asal kata Penarungan tersebut dari asal muasal air arungan tersebut, dimana

1.      Desa Penarungan ( asal dari dataran Pen – Arungan )

2.      Subak Penarungan ( asal dari air Pen – Arungan )

Demikian sekilas sejarah asal usul Desa Penarungan yang diceritakan oleh keturunan I Gusti Ngurah Putu Kamasan ialah I Gusti Ngurah Raka Kamasan yang sampai saat ini, Pebruari 1990 masih hidup dengan usia sekarang adalah 58 tahun dengan alamat di Banjar Sengguan, Desa Penarungan. Semoga bermanfaat dan berguna

  • Dibaca: 1944 Pengunjung